Pernah dengar berita tentang rencana pembakaran Al-Quran di salah satu negara bagian di Amerika  11 September lalu?  Atau berita tentang penusukan jemaat HKBP saat hendak beribadah pada hari minggu lalu? Betapa miris hati saya mendengar berita-berita buruk itu. Beberapa orang terlibat ‘saling serang’ alih-alih membela agamanya masing-masing. Benarkah semua yang terjadi itu benar-benar perselisihan antar agama atau ada modus lain di dalamnya? Pertanyaan itu saya akui belum mampu saya jawab. Dalam tulisan ini, semua murni opini saya, jadi mohon maaf jika masih banyak kekurangan.

Kita bukanlah orang yang baru hidup di Indonesia. Sehingga tanpa diberitahu pun, kita pasti paham sekali bahwa Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak keragaman. Baik suku, bahasa, agama, ataupun ras. Seharusnya berawal dari pengetahuan itu, kita dapat meningkatkan toleransi kita terhadap banyaknya perbedaan yang terjadi sepanjang menjalani hidup di tanah air ini. Karena suka tidak suka setiap perbedaan tetaplah perbedaan. Yang terkadang memang sulit sekali dipertemukan titik terangnya yang tak jarang mengakibatkan suatu konflik.

Ternyata pernyataan tersebut nyatanya bukan sekedar teori, tapi juga berlaku dalam realita. Lihat saja, berita-berita televisi pun telah ramai membicarakannya. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang melibatkan dua unsur berbeda didalamnya, yakni agama. Sungguh dalam hati saya sejujurnya bertanya, apa yang terjadi pada kita? Mengapa kita selalu mudah terprovokasi oleh pihak-pihak lain yang tak bertanggung jawab, yang pada akhirnya hanya merenggangkan persaudaraan diantara kita yang telah terjalin sejak lama.

Sadarilah, pada dasarnya seluruh agama mengajarkan satu ajaran, yakni kebaikan. Berbicara tentang Tuhan, itu murni hadir dari dalam hati masing-masing individu yang menjalankannya. Untukku agamaku, dan untukmu agamamu. Lantas apa yang harus diperselisihkan? Saya sedikit punya cerita, tentang perbedaan agama yang hadir dalam suatu kelompok kecil yang nyatanya dengan perbedaan itu, semua orang bisa saling menghormati dan bertoleransi. Kelompok itu sering kita kenal dengan sebutan, keluarga.

Dahulu ada sebuah keluarga kecil yang hidup dengan orang tua yang berbeda agama, Islam dan Katholik. Pernahkah kau bayangkan, bagaimana perasaan tiap orang yang hadir dalam keluarga tersebut? Adakah mereka memberontak dengan keadaan seperti ini? Apakah terjadi saling sindir tentang agama didalam keluarga mereka? Tidak, sama sekali tidak. Mereka hidup dengan saling menghormati dan menyayangi satu sama lain, tak ada paksaan dan kekerasan sedikitpun bagi anak-anak mereka untuk memilih keyakinan apa yang hendak dianutnya. Dan sampai saat ini pun, keluarga itu hidup bahagia, bahkan dengan satu celah didalamnya, yaitu agama. Pernahkah kita berpikir, jika seluruh orang di Indonesia memiliki rasa sayang dan hormat terhadap sesamanya layaknya keluarga, takkan pernah terjadi perselisihan ada kecurigaan diantara kita. Interupsi dan konflik diselesaikan dengan jalan kekeluargaan, sehingga tak pernah ada yang namanya pembakaran, penusukan, penghancuran rumah ibadah dan lain sebagainya.

Ingatlah, bahwa segala tindakan yang kita lakukan hanya merupakan respon dari informasi yang diolah dalam pikiran, kemudian hati yang mempertimbangkan apakah itu baik dilakukan atau tidak. Tuhan menciptakan hati kita itu secara alamiah pasti akan menuju kebaikan. Namun terkadang nafsu dan egoisme manusia sesaat yang membuyarkan segalanya. Sehingga jangan heran jika kejadian-kejadian buruk itu tetap akan berlangsung kedepannya, jika manusia tidak memadukan pikiran dan hati dalam posisi yang jernih.

Saya disini bukan apa-apa. Bukan superhero yang bisa menumpas kejahatan dan perselisihan. Saya hanya bisa menulis, menulis apa yang ada didalam hati saya. Saya hanya ingin kembali kepada Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sungguh semua ini hanya opini, sehingga tak sedikitpun berniat menyinggung dan sebagainya. Tapi ada satu yang saya ingin tekankan.

Berpikirlah dengan Jernih Apa yang Akan Kau Lakukan, Lalu Pertimbangkan dengan Hati yang Bersih. Niscaya Kebaikan Akan Selalu Bersamaku, Bersamamu dan Bersama Kita Semua.

– Citra Prana Paramita (@citraprana)

Advertisements