Sore itu langit kian cerah, berwarna biru muda sambil sesekali tertutup oleh tebalnya awan yang bergelayut di atap langit luas. Belum lagi, indahnya hamparan kebun singkong dan gunung kapur tepat diseberang sana benar-benar membuat mataku kembali segar. Ya, sering sekali aku melihat pemandangan seperti ini dari balkon rumahku. Melalui rumah putih yang bertengger dipinggir jalan di pedalaman kota Bogor, yang sering dibilang orang-orang sebagai kampung. Haha, memang inilah kampungku, tempat ku singgah dan istirahat. Dan yang paling penting, disinilah kedatanganku selalu dinantikan, oleh ayah, ibu, bahkan oleh adikku yang sering menjahiliku sekalipun.

Sore itu benar-benar seperti sore-sore sebelumnya. Sampai aku hafal, kapan waktu yang paling indah untuk memandang langit, yakni setelah solat Ashar. Namun tak seperti sebelumnya, pemandangan kali ini terasa berbeda. Awan-awan di atas sana seperti tak bersatu, mereka lepas satu sama lain membentuk gumpalan yang lebih kecil. Dan disanalah imajinasiku terbentang. Awan-awan itu seketika berbentuk beraneka ragam dikepalaku, mulai dari bentuk hewan, manusia sampai bentuk-bentuk abstrak yang tak biasa kutemui. Hampir seperti salah satu scene di film UP. Tapi sayang, saya tidak ditemani siapapun, hanya sendiri. Awan-awan itu semua saling bergerak, kadang menuju ke barat, kadang ke timur, layaknya slideshow yang digerakan langsung oleh Tuhan. Sayang sekali aku tak pandai melukis. Jika saja aku dapat, mungkin tiap hari aku dapat melukis lukisan yang berbeda di tempat ini.

Memandang langit, dulu memang bukan sesuatu yang wajar kulakukan saat masih di Jakarta. Bagaimana bisa? Rumah-rumah sudah menjulang tinggi dimana-mana, hanya atap rumah orang yang dapat terlihat dari titik tertinggi di rumahku saat itu. Namun kini terasa berbeda, tiap siang hingga sore, langit di luar sana selalu menyapaku ramah dengan warna biru mudanya, warna yang sangat ku suka yang menggambarkan ketentraman dan kedamaian. Tapi terkadang langit juga bisa murka, dia berteriak keras dengan gemuruh gunturnya yang memekakkan telinga, belum lagi warna awannya yang muram, uh benar-benar mengerikan. Ya, itulah ciptaan Tuhan. Dari sini kebesaran Tuhan tampak nyata. Dialah yang mengatur segalanya, yang menjadikan bumi dan isinya kokoh dan tak mudah guncang.

“Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak dan bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik” (QS Luqman 31 : 10).

Maka bersyukurlah kepada Allah, Tuhan Seluruh Alam, atas nikmat hidup yang telah diberikan kepada kita sampai saat ini. Saranku, sempatkanlah kalian tengok ke langit, percaya padaku, itu asyik! Maka kalian akan lihat secara langsung bukti kebesaran Tuhan. Namun jika tak sempat, tak perlu khawatir. Cukup tengok saja ke hatimu, maka Allah pasti selalu bersemayam disana  ada untukmu, untuk hamba-hamba-Nya yang rindu akan kebesaran-Nya. =)

– Citra Prana Paramita (@citraprana)

Advertisements