Ada momen yang agak mengagetkan saya di bulan Maret lalu. Suatu siang di jurusan, teman saya selaku wakabid PIPTEK IMTI 2010 tiba-tiba datang dan memberi tau, kalau saya ditunjuk menjadi salah satu penerima penghargaan mahasiswa berprestasi di acara Malam Apresiasi Prestasi pada waktu itu. Hmm, awalnya ada perasaan bingung betulnya. Penghargaan apa yang saya dapat? Perasaan, saya belum banyak mengukir prestasi deh di teknik ini, kok udah dapet penghargaan aja? Haha, dengan wajah yang masih sotoy, yaudah saya iya-iya aja waktu dikasih tau kaya gitu, hehe.

Sampai di suatu tempat, ada seorang teman lagi yang tiba-tiba memberi selamat kepada saya di tengah jalan. Hemm, ada yang tidak beres. Ternyata udah agak menyebar rupanya berita itu. Tadinya saya kira itu cuma berita diem-diem doang. Yaudah, dengan senyum melebar saya balas ucapannya dengan terimakasih. Kami ngobrol banyak saat itu, sampai pada akhirnya saya baru tau dari dia kalau ternyata penghargaan yang saya dapat itu adalah penghargaan di bidang akademis karena memiliki IPK tertinggi seangkatan. Begitu tau, ada perasaan ga percaya lagi dari dalam hati. Karena jujur aja, kalo masalah belajar mengajar kadang-kadang saya bahkan masih perlu dibantu sama temen-temen yang lain. Temen-temen saya yang hebat-hebat, seperti Sofrida, Aisyah, Ditha, Meilin, Dhanita dan Irvanu. Tapi rasa syukur tak hingga benar-benar saya rasakan saat itu, Alhamdulillah.

Taukah kamu, kalau orang tua saya benar-benar faktor terpenting yang menyebabkan kenapa sekarang saya ada di sini, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Ada beban yang cukup berat saya emban sebagai anak, yang harus saya pertanggung jawabkan kepada orang tua saya yang telah susah payah menyekolahkan saya hingga saat ini, yakni nilai (karena saya sudah kuliah, patokannya sekarang berarti berubah menjadi IP/IPK). Saya yakin,semua orang tua pasti menilai anaknya sendiri sebagai anak yang cerdas, sama juga seperti ayah ibu saya menilai saya saat ini. Padahal, ga semua yang mereka pikirkan terhadap saya itu bener loh,haha. Mungkin saya dulu bisa juara di kelas sampe SMA, tapi sekarang setelah saya di UI, berkumpul dengan anak-anak cerdas lainnya dari berbagai daerah, mungkin saya bukan apa-apa lagi. Nah itu dia tantangan saya sekarang, yaitu harus berubah menjadi anak yang lebih menonjol daripada teman-teman lain dibidang akademis. Saya sangat yakin kalo proses itu ga gampang, tapi seenggaknya saya harus lebih berusaha. Dan Alhamdulillah usaha itu kemarin telah mendapatkan imbalannya. Namun, semoga itu bukan penyebab untuk menghentikan usaha saya sampai disini saja.

Berbicara prestasi, mungkin semua orang berharap dapat meraihnya. Begitu pula dengan saya. Sebagai manusia, terkadang sifat tidak mudah puas memang selalu hinggap pada diri. Oleh sebab itu, saya benar-benar bercita-cita untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan saya dengan mengikuti kompetisi yang ada. Memang, saya akui masih sedikit kompetisi yang saya ikuti saat ini. Malah lebih banyak gagalnya sekarang,haha. Tapi bagi saya itulah proses. Setiap kegagalan merupakan proses bagi saya untuk mengetahui letak kesalahan saya. Tanpa gagal, mungkin saya tak dapat berkembang. Tak akan tau mana yang benar. Semoga prestasi saya tak hanya sampai pada mapres akademis teknik industri 2008 saja, namun masih ada lagi dikedepannya. Amin. Begitu pula doa saya tak pernah putus untuk semua sahabat-sahabat yang telah membantu saya sampai sekarang. Semoga kedepan, kita bisa menjadi orang-orang yang bermanfaat untuk diri sendiri, orang tua dan orang lain di sekitar kita. Amin.

Ganbatte Kudasai!


– Citra Prana Paramita (@citraprana)

Advertisements