Beberapa hari yang lalu, disela-sela kegiatan saya di lab jurusan, saya dan beberapa teman saya sempat berdiskusi santai mengenai pluralisme. Dan menariknya, kami berbicara masalah agama. Hmm, bukanlah sesuatu hal yang tabu bagi saya ketika berdiskusi masalah agama, karena saya sudah cukup terbiasa memandang suatu hal bukan dari perspektif saya sendiri. Dan saya merasa, bertukar pikiran dengan banyak orang itu adalah sesuatu hal yang menarik dan mengasyikan. Maka berjalanlah obrolan tersebut dengan menarik dan terlihatlah bahwa masing-masing dari kita bangga menjadi seseorang dengan agama yang kita anut saat ini. Kebanggaan itu membawa memori saya ke suatu momen. Momen dimana saya berkesempatan untuk bertukar pikiran bersama beberapa rekan dari Jepang dan Thailand.

Ketika itu adalah 10 hari terakhir di bulan Ramadhan yang pertama kalinya saya habiskan di Thailand. Dimana saya sebagai seorang muslim wajib menjalankan ibadah puasa, dan tidak dapat makan siang bersama-sama teman-teman saya yang lain, melainkan harus berpisah untuk menunaikan shalat.  Lantas, mereka cukup bingung dengan aktivitas saya tersebut. “Bagaimana mungkin kita bisa setaat itu, ketika diperintahkan tak boleh makan dan minum hingga magrib tiba?” Sedang mereka di negaranya, tak jarang menganggap agama hanya sebagai pelengkap saja atau bahkan sekedar hobi pribadi yang merupakan privasi pemeluknya masing-masing. Dan mereka pun banyak bertanya dan banyak mengeksplor tentang Islam.

Ingatan tersebut membawa saya ingat kembali ke percakapan antara saya dengan seorang teman dari Jepang. Ia sangat tertarik dengan “ritual-ritual” saya sebagai orang muslim, seperti shalat yang selalu saya lakukan ketika mereka makan siang, berpuasa, tentang jilbab dan banyak hal lainnya ia tanyakan kepada saya. Saya dengan senang menjawabnya, karena saya pikir inilah waktu saya untuk memperkenalkan Islam kepada mereka. Dan bahkan yang membuat saya kaget, dia tahu tentang 5 Rules dalam Islam (ya, begitu mereka menyebutnya), yang mungkin lebih kita kenal sebagai Rukun Islam. Ia pun tampak puas dengan jawaban saya, sehingga saya pun mencoba balik bertanya kepada dia :

Saya : “Terus kalo kamu gimana? Agama kamu apa?”

Dia : (dia tampak bingung dan berpikir sejenak) “Hmm, it’s complicated”

Saya : “Complicated? Maksudnya apaan deh? Coba dijelasin lah, kan saya udah banyak jelasin ke kamu juga tadi, haha”

Dia : “Iya, maksud saya kalo di Jepang itu, agama bukan sesuatu hal yang penting. Kalo saya sendiri, terlalu banyak kepercayaan-kepercayaan yang keluarga saya anut, jadi saya bingung. Jadi semakin kemari, saya semakin ga peduli dengan agama. Karena menurut saya, agama ga banyak membantu penelitian saya, apalagi pekerjaan saya.

Saya : (dengan tampang agak kaget dan cengo gara-gara statement dia) “Seriusan? Oh, oke deh kalo gitu. Kita coba obrolin tentang yang laen aja” (sambil kebingungan cari topik laen gara2 ga enak, haha)

Ya, semakin saya melihat ke negara lain yang notabene bukan mayoritas muslim, saya semakin menyadari. Bahwa kelapangan yang kita dapatkan di Indonesia adalah sesuatu yang sangat berharga sebetulnya. Hanya saja terkadang kita lalai dan kurang menyadari bahwa itu adalah sesuatu rezeki tak terhingga yang diberikan oleh Allah oleh kita. Sebut saja kemudahan shalat. Bersyukurlah kita yang masih bisa shalat dengan mudah di Indonesia. Karena tak bisa kita jamin, bahwa di luar Indonesia kita dapat memperoleh kemudahan shalat semudah disini.

Kemudahan mencari makanan halal. Saya benar-benar cukup direpotkan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa sulit sekali mencari makanan yang benar-benar halal di Thailand. Satu-satunya bekal yang saya miliki disana adalah outfit saya, yang mencerminkan wanita muslim. Dan beruntungnya, mereka membantu mengingatkan saya jika ada makanan-makanan yang mengandung babi, padahal percaya atau tidak. Saya belum sempat bertanya kepada dia, tapi dia yang lebih dahulu mengingatkan saya, mungkin karena saya dikenali sebagai seorang muslim melalui jilbab saya kali yaa.

“Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita beriman, bahwa wajib atas mereka untuk mengenakan jilbab. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenali (sebagai wanita beriman, yang terjaga kehormatannya) sehingga mereka tidak disakiti (diganggu orang). Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. (Al Ahzab : 59)

Maka dari perjalanan singkat saya tadi, lantas saya berpikir. Bahwa sebetulnya banyak sekali hal-hal manis yang kita dapatkan disini, yang sangat bisa kita syukuri keberadaannya. Terlalu merugilah kita, sebagai manusia, yang tak bisa membaca sesuatu hal yang simpel padahal sesungguhnya itu adalah sesuatu yang amat berharga diberikan Tuhan, diberikan khusus untuk kita. Bersyukurlah kita terlahir disini, yang masih banyak diingatkan tentang Tuhan. Padahal di banyak tempat disana, banyak juga orang yang sudah terlarut akan perkembangan dunia, dan telah melupakan adanya Tuhan. Bersyukurlah kita, bersyukurlah kita, bersyukurlah kita sebagai salah satu bagian yang Insya Allah senantiasa Allah jaga dan Allah selamatkan, Amin.

Dan saya pun teringat tentang sebuah percakapan lucu yang dilontarkan seorang teman dari Thailand perihal berpuasa :

Dia : “Lalu kamu bener-bener engga makan dan minum sama sekali gitu?”

Saya : “Iya. Tuhan lah yang mengajarkan begitu. Yang disampaikan melalui kitab suci yang kami kenal sebagai Al Quran.”

Dia : “Terus sampai kapan kamu ga makan dan minum”

Saya : “Lamanya sampai 1 bulan, namanya bulan Ramadhan. Tiap harinya, kita ga boleh makan dan minum sampai tenggelam matahari. Hmm, mungkin kalo disini sampai sekitar jam setengah 7 sore.”

Dia : “Wah, Serius?! Lama banget? Kalo kamu bener-bener ga kuat banget dan bener-bener pengen makan gimana? Bener-bener pengen makaaaannn bangeettt.. Itu gimana tuh?”

Saya : Eh? (dengan tampang bingung) “Hmm yaa, kita tetep aja ga boleh makan. Hmm, paling-paling kita istirahat atau tidur deh untuk mempersingkat waktu, hehe” 🙂

Advertisements