Aku yang saat itu sedang sibuk skripsi, suatu hari diberitahu Sofrida bahwa ada lomba lagi dari UN Women ke Korea. Dan spesialnya, ada sekitar 1000 orang yang akan dipilih untuk ikut kongres dan dibiayai sepenuhnya oleh panitia. Lomba itu mensyaratkan 3 orang pertim, dan memperbolehkan ada max 1 cowo tiap tim. Karena waktu itu niatnya ingin ajak anak2 Shanghai (sekalian ada yang mau modus gitu deh, hehe), awalnya yang diajak Gerry sama Qi doang untuk ikut 2 tim kita. Qi waktu ditawarin mah iya2 aja, katanya asal ada temen cowoknya, tapi Gerry waktu itu labil banget karena ditawarin sama temen dia juga dan kelabilannya sukses bikin aku kesel. Akhirnya diputusinlah, Gerry setim sama temen2 ceweknya yang lain dan Elfan yang join di tim kita. Sedangkan untuk sisa 2 ceweknya diambil dari junior lab aku dan Sof yang udah punya Paspor, terpilihlah Nauli & Dinda.

Dan saat pengundian kelompok di EC, akhirnya diundi tuh dan yang masuk kelompokku ada Nauli & Qi, sedangkan kelompok Sofrida ada Elfan & Dinda. Qi yang baru saja ikut TC Sipil tenis meja pun kemudian datang, kami akhirnya berdiskusi tentang ide apa yang mau diusulkan (mulai dari Panti Janda, Panti Jomblo, dan ide-ide aneh itu pun keluar, haha). Saat itu tim Sofrida sudah fix dengan ide Solar Stovenya, namun kelompok kami masih bimbang. Kemudian dijadwalkanlah pertemuan selanjutnya untuk fiksasi abstrak.

Di pertemuan selanjutnya, kami sudah janjian untuk kumpul di lobi jam 8. Semua tim sofrida sudah datang, hanya tinggal Qi aja yang belum datang. Ditelpon ga diangkat, dan saat itu aku mengira kalau Qi pasti ketiduran, karena malam sbelumnya aku sempat BBM Qi tengah malam dan ternyata dia masih ngurus TC. Dengan ketiadaan Qi, akhirnya aku dan Nauli yang menentukan tema dan merancang abstrak. Hingga akhirnya jam 10 Qi menelepon, karena kaget kok ada banyak miscall (katanya). Dan dia baru sadar, dia lupa ada jadwal kumpul dan baru datang jam 11, dengan membawa Pizza PHD sebagai permintaan maaf karena ketidaksengajaannya ketiduran akibat semalaman begadang membela Sipil di TC. Sogokan Pizzanya cuma sedikit meredam kemarahan kita. Karena ketika Qi datang, semua abstrak sudah selesai betulnya, dia tinggal bagian translate. Tapi dia mengelak tugas itu, karena katanya bahasa inggrisnya jelek. Akhirnya ditranslate sebisanya oleh Qi, dan disempurnakan Nauli sebelum kukirim. Itu pun dia sebetulnya masih agak menolak ide kita yang tentang ide pembuatan aplikasi “Happy Menstruation” bagi wanita. Tapi aku tetap teguh pada pendirian, karena salah dia juga, orang udah diskusi sampe jauh, masa maen diubah. Siapa suruh terlambat?

Penantian pengumuman makin banyak ditunggu orang-orang, karena memang pesertanya sangat banyak. Hingga beberapa pengumuman sudah dipublish, dan berita dari teman-teman menyebutkan bahwa tim mereka (tim Gerry, Aisyah, dan Sofrida) gagal. Sedangkan tim kami statusnya masih gantung, dan kami tetap berdoa saja agar diberikan yang terbaik. Dan Alhamdulillah, kami akhirnya mendapat pengumuman bahwa tim kami salah satu tim yang lolos untuk ke Korea, Allahu Akbar!

Proses pengerjaan full paper benar-benar menguras waktu dan tenaga. Apalagi waktu itu Qi sedang ada masalah di skripsinya, sehingga aku cukup mentolerir . Toleransiku ini dikarenakan sebelumnya aku pernah ketemu Qi untuk minta scan Paspor, dan ternyata pas bertemu dia, wajahnya udah lusuh berantakan, kemungkinan karena pressure skripsinya itu kali yah. Itu yang membuat kita kasihan. Yaudah, akhirnya yang ngerjain aku dan Nauli aja. Beberapa kali diajak kumpul, Qi gabisa dateng. Hingga Nauli benar-benar mempertanyakan kepercayaan kita ke Qi, karena udah mulai kesel. Kita yang disisi lain kasihan dengan Qi (karena kondisi skripsi & pesimisme kelulusannya), gak tega untuk nambahin beban dia untuk cari materi juga. Akhirnya kita coba handle masalah paper, & kita percaya kalau Qi pasti bisa handle skripsinya dan lulus semester ini. Insya Allah kalau rezeki kita bisa lanjut presentasi 5 besar.

Hari pun berulang, dan puji syukur kehadirat Allah tim kami lolos 5 besar dan berhak presentasi di depan juri. Pengumuman ini mendadak membuat Qi kaget, karena dia gak merasa ngerjain apa2 di paper, tiba-tiba udah lolos ajah. Maka dari itu, kita menantang Qi untuk memberikan the best effort saat presentasi nanti. Dan dia menyanggupi. Beban skripsi pun akhirnya perlahan mereda, dan kami sangat senang sekali, kami bisa melewati sidang dengan baik walaupun dengan kesibukan2 ini, Alhamdulillah.

Advertisements