Semua ini berawal dari celetukan random di depan klinik imigrasi untuk persiapan pergi kongres ke Korea waktu itu :

Saya : ” Dok, vaksin meningitis ini masa berlakunya berapa lama yah?”

Dokter : “2 tahun Mbak”

Saya : “Wah, kalau saya suntik sekarang berarti masih bisa berlaku sampai 2014 yah Dok? Ga perlu suntik lagi kalau misalnya nanti mau Umroh gitu?”

Dokter : “Iya, ga perlu Mbak”

Entah, sepulangnya dari sana, doa itu pun kian mengalir. Di setiap shalat wajib, sunnah, semuanya terucap doa : ingin pergi umroh tahun 2014. Dan doa itu pun mulai terlihat tanda-tanda terijabahnya saat suatu pagi di Juli 2014, saya iseng-iseng buka twitter dan ndelalahnya ada teman yang retweet tentang promo Umroh USD 1450. Seketika saya berpikir :

Jangan-jangan, inilah jawaban dari Allah!

Langsung saja saya ikuti prosedurnya, walaupun saat itu belum genap tabungannya ada sebesar itu, tapi saya tau, kesempatan ini mungkin gak datang dua kali. Saya pun mohon izin ke ibu dan bapak, minta izin untuk pergi.. Sendiri.. Dan Alhamdulillah, mereka pun mengizinkan. Singkat cerita, dengan berbagai susah senangnya mempersiapkan kepergian, hari keberangkatan itu pun tiba.

IMG_20141207_220918

Semenjak tiba di Soekarno Hatta, saya benar-benar yakin kalau perjalanan 9 hari ini pasti akan terasa sangat cepat jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Saya pun bertekad untuk memanfaatkan setiap detik perjalanan dengan baik. Mentadabburi setiap langkah dalam perjalanan ini dengan penuh makna, saya berusaha sebanyak mungkin berdzikir dalam hati agar hati ini tidak kosong. Agar siap hati ini berjumpa dengan kekasihnya di Tanah Haram sana. =)

Perjalanan via udara itu pun tidak sebentar kami tempuh. Belum lagi ada transit 6 jam di Abu Dhabi yang melelahkan, pheew! Tapi saya selalu ingat kata Ustadz saya :

Usahakan untuk selalu ikhlas, dan selalu sabar yah!

Alhamdulillah, akhirnya tibalah saya di Bandara Jeddah. Sempat berasa seperti mimpi, karena inilah tanah terjauh yang pernah saya pijak seumur hidup saya. Masya Allah, rindu itu pun terasa sangat kuat. Tak sabar hati ini ingin menjumpai Rasul. Dan tak lama setelah mengurus imigrasi, kami pun segera berangkat ke Madinah, saat itu di Jeddah sekitar pukul 7 malam waktu setempat.

Perjalanan lebih kurang 4 jam pun kami tempuh. Sepanjang jalan Muthawif kami tak henti melantunkan talbiah, shalawat, tasbih, tahmid, takbir dan lantunan dzikir lainnya. Bener-bener bikin merinding kalau diinget-inget lagi. Saat itu saya sempat tertidur barang 1 jam – 2 jam. Ditengah jalan sempat berhenti sebentar di musholla untuk menunaikan shalat magrib yang dijamak dengan shalat isya. Saat turun dari bus, udaranya dingiiinnnn benerrr, wuusshh.

Dari pemberhentian itu, kira-kira tinggal 1 jam lagi menuju hotel. Saya sudah tidak tertidur di sisa perjalanan itu, karena kami sudah harus membaca doa memasuki kota Madinah. Dan Masjid Nabawi pun sudah terlihat dari kejauhan, Masya Allah! 🙂 Tak lama dari situ, kami pun sampai di Hotel Al Eiman Taibah.

100_4630

Waktu menunjukkan pukul 11 malam, dan kami semua langsung istirahat tidur agar besok pagi bisa bergegas bangun pagi ke Masjid Nabawi untuk menunaikan shalat Tahajjud disana.

Shalat Pertama di Masjid Nabawi

Sekitar pukul 4 pagi, saya dan 3 teman sekamar yang lain (Mba Didith, Mba Ririn, dan Maia) sudah bersiap ke Masjid Nabawi untuk Shalat Tahajjud. Langit masih gelap gulita, tetapi orang-orang sudah berbondong-bondong jalan ke arah Masjid Nabawi. Saya yang saat itu tidak tahu dimana letak Masjid Nabawi dari Hotel, seketika jadi tahu karena melihat banyak orang berduyun-duyun berjalan ke arah yang sama.

100_4606

Memasuki pelataran Masjid, saya masih berasa seperti  mimpi. Pemandangan yang selama ini saya cuma bisa lihat dari TV, ini benar-benar saya alami sendiri. Apalagi saat memasuki Masjid, kayanya saya sampai berdecak “woow” tanpa sadar deh. Berjajarnya bejana air zam-zam, mengkilatnya lampu-lampu yang menerangi ornamen dalam Masjid, ditambah lagi dengan kemilau emasnya rak-rak Al Quran diberbagai sisi, membuat saya sempat berpikir “ini Surga?”.

Sesuai Shalat Tahiyatul Masjid, saya duduk dan masih sambil memandangi ke sekeliling karena terpukau dengan keindahan ornamennya. Belum habis sampai disitu, saya dibuat takjub lagi karena tiba-tiba atap Masjid bisa terbuka dengan sendirinya. Alhasil, saya bisa melihat indahnya bulan purnama dari dalam Masjid. Haduh, bener-bener seperti orang norak lah, saya waktu itu, hehe 😀

100_4607

Waktu itu waktu Subuh sekitar pukul 6 pagi, dan saya masih punya waktu sekitar 2 jam untuk beribadah disana. Dan setelah kenorak-an yang saya rasakan, saya pun teringat bahwa didepan sana ada makam Rasulullah. Saya kemudian melanjutkan Shalat Tahajjud dengan rasa haru yang sangat, seakan-akan saya Shalat di hadapan beliau. Sambil di dalam hati berkata :

Assalamualaika Yaa Rasulullah. Ini aku Yaa Rasul, berada di hadapanMu, di dalam MasjidMu yang Kau cintai, di tanahMu Madinah Al Munawwaroh yang penuh dengan berkah, memenuhi panggilanMu, memenuhi janjiku Yaa Rasul. Maka Ridho’i lah aku, berikanlah syafaatMu di akhirat kelak kepadaku Yaa Rasul. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Advertisements