وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ

“Sesungguhnya aku telah menjadikan Madinah sebagai tanah suci/haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Mekah sebagai tanah haram” (HR Muslim)

Perjalanan hari pertama di Madinah di awali dengan berziarah dan berdoa di Makam Rasulullah dan Makam Baqi, serta ke Raudhah. Sejak berhadapan langsung dengan Makam Rasulullah, shalawat terasa berbeda. Dulu, mungkin saya hanya bershalawat dibibir saja. Namun semenjak berhadapan langsung dengan makam Rasulullah, saya merasa Rasulullah sangat nyata. Energinya sangat terasa. Pun saat ke Makam Baqi, tak ada hal lain yang terucap selain doa keselamatan untuk seluruh penghuninya, dan berharap bisa dimakamkan di Makam Baqi ini.

100_4641 - Copy

Berada di Raudhah tidaklah terlalu sulit, kita hanya perlu sabar dan antri untuk dapat giliran masuk. Memasuki pelataran Raudhah kembali membuat lutut saya lemas. Kali ini karena saya cuma berjarak beberapa meter dari Rasulullah, Masya Allah! Air mata inipun tak bisa saya bendung. Rasanya bagaikan bertemu dengan kekasih yang lamaaa sekali tidak pernah bertemu. Assalamualaika Yaa Rasulullah, ini aku datang memenuhi janjiku Yaa Rasul. Memenuhi panggilanMu. Kalimat itu selalu terngiang dikepala saya. Seperti layaknya seorang kekasih yang hendak membuktikan cinta dan janjinya, saya pun berdoa di hadapan Baginda. Tidak ada perasaan lain selain rasa syukur kepada Allah, kepada Rasulullah, bahwa saya telah mendapat hidayah dan merasakan nikmat paling agung berupa iman dan Islam, walaupun saya berada jauh dari Tanah Haram & hidup ribuan tahun setelah Baginda Rasulullah SAW hidup. Munajat kali itu murni hanya menyampaikan rasa rindu, rindu yang teramat dahsyat kepadaMu Yaa Rasulullah. Sambil sesekali menyampaikan amanah doa-doa yang tertitip dari kerabat di tanah air.

Ziarah di Madinah

Agenda di Madinah pun dilanjutkan ke tempat lain, diantaranya ke Masjid Quba, Perkebunan Kurma, Jabal Uhud dan Jabal Magnet. Hal unik yang saya rasakan di Masjid Quba adalah bisa merasakan buah kurma yang fresh. Ternyata bentuknya mirip buah anggur yah, hehe seger banget. Sewaktu di Jabal Uhud pun saya merasa seperti hidup di masa lalu. Disana saya mencoba berimajinasi, bagaimana perang waktu itu terjadi. Dan atas setiap langkah saya ketika itu, saya benar-benar speechless dengan segala nikmat Allah yang saya rasakan kala itu.

100_4664

Seusai keliling kota Madinah, hari-hari saya pun di habiskan dengan beribadah di Masjid Nabawi. Berjalan-jalan ke toko-toko disekelilingnya untuk berbelanja oleh-oleh, sambil sesekali mencicipi makanan khas sana, waktu itu saya mencoba Shawarma. Hari-hari di Madinah tidak saya sia-siakan sedikit pun, kota Madinah yang begitu sejuk, membuat saya tak ingin pergi dari sana. Hari pun berlalu, dan saat yang mengharukan itu pun datang, saat perpisahan..

Perpisahan dengan Kota Madinah

Hari itu hari terakhir saya berada di Madinah. Sebetulnya saya penasaran, ingin coba merasakan puasa disana. Hari itu, saya pun akhirnya merealisasikan niat saya untuk berpuasa, dengan sahur alakadarnya. Kami pun bersiap menuju Masjid. Memori saat menuju Masjid Nabawi di pagi dini hari benar-benar saya rekam dengan baik di otak saya. Warna langit dan jajaran bangunan itu saya pandangi baik-baik dalam memori saya. Karena saya yakin, saya pasti akan rindu masa-masa ini. Seusai beribadah di Masjid hingga Subuh, saya saat itu berpisah dengan teman sekamar saya. Saya yang saat itu sedang berpuasa, ingin tetap menghabiskan waktu di dalam Masjid hingga Syuruq (Dhuha) tiba, sementara teman-teman yang lain balik ke hotel untuk sarapan. Setelah shalat Dhuha, saya langsung menuju Raudhah. Saya benar-benar tidak mau menyia-nyiakan sisa waktu sedikitpun untuk bersamaNya. Inilah saatnya perpisahan. Inilah saat terakhir saya ke Raudhah sebelum menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah Umroh.

Lutut saya kembali lemas saat memasuki Raudhah. Yaa Rasulullah, inilah saatnya aku harus berpisah denganMu. Tangis itu pun kembali pecah, lebih haru daripada saat pertama kali memasukinya. “Akankah saya masih dikaruniai umur panjang untuk bisa kesini lagi?” Begitu tanya saya dalam hati. Saya berada cukup lama di Raudhah saat itu, sambil berpindah-pindah tempat karena tempatnya cukup sesak. Hingga tak terasa, sapu tangan saya pun basah karena air mata plus ingus-ingusnya sepertinya, hehe. Tapi sungguh, mata saya sembab saat itu. Izinkan aku untuk menemuiMu kembali Yaa Rasul, disini.. Bersama kedua orang tuaku.. Bersama suami dan anak-anakku suatu hari nanti.. Dan kaki ini pun melangkah dengan berat keluar dari Masjid menuju hotel untuk berkemas. Ba’da dzuhur, kami sudah harus pergi ke Masjid Bir Ali untuk mengambil Miqat dan seterusnya melanjutkan perjalanan ke Makkah.

100_4639

Advertisements