100_4708

Kala itu siang terik, kami serombongan yang sudah menunaikan shalat dzuhur (dan jamak Ashar) bersiap masuk bus yang sudah tersedia di depan hotel untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah. Sebelumnya, kami diinstruksikan oleh Muthawif kami untuk sudah mengenakan pakaian ihram, karena ditengah perjalanan nanti kami akan mampir ke Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat dan niat umrah. Alhasil di dalam bus, semua orang berpakaian serba putih. Bus pun berjalan meninggalkan hotel. Sepanjang perjalanan menuju Masjid Bir Ali, kembali lantunan talbiah, shalawat, tasbih, tahmid, takbir dan dzikir lainnya mulai menggema di dalam bus. Untuk menjaga hati ini agar tidak kosong tentunya. Tak lama bus berjalan, Alhamdulillah kami pun sampai ke Masjid Bir Ali. Di Masjid Bir Ali ini kami melaksanakan shalat sunnah ihram dan tak lupa juga berniat. Maka selepasnya, segala larangan saat ihram mulai berlaku. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke Makkah.

Perjalanan ke Makkah dari Madinah menempuh waktu sekitar 6-7 jam. Ditengah perjalanan, kita pun berhenti sejenak di Masjid di pinggir jalan untuk menunaikan shalat Magrib dan Isya yang dijamak. Dan disitu pula saya berbuka puasa dengan kurma yang saya beli saat di Jabal Uhud kemarin, dan air zam-zam yang saya simpan dibotol tentunya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga saya berpuasa di tanah Arab ini. Dan karena agenda pada hari itu tidak terlalu padat dan karena kemudahan dari Allah tentunya, saya merasakan puasa saat itu tidak terlalu berat, Alhamdulillah. Setelah shalat wajib tertunai, kami pun melanjutkan perjalanan. Hampir di sepanjang jalan saya tertidur lelap di bus. Harapannya sih supaya pas sampai Makkah sudah fresh, karena saat itu kita harus segera menunaikan Umrah.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam, Muthawif kami mulai membangunkan jamaah yang masih tertidur di dalam bus, termasuk saya, hehe. Rupanya sebentar lagi kami akan memasuki kota Makkah, dan disitu kami membaca doa masuk kota Makkah bersama-sama. Saya yang saat itu penasaran banget mau lihat mana sih bangunan hotel dengan menara jam yang fenomenal itu, melihat ke arah luar bus. Saya pandangi setiap bangunan tinggi, dan akhirnya menemukan bangunan itu menjulang tinggi tak jauh dari bus kami berada. Tapi saat itu ada rasa kecewa karena saya belum dapat menemukan Ka’bah. Jadi saya pandangi saja kios-kios di pinggir jalan kota Makkah, tak jarang saya menemukan kata yang familiar di sana, “Restoran Padang”. Seketika saya tersenyum, memang ya lidah orang Indonesia gabisa boong, cocoknya sama masakan Indonesia juga, hehe. Bus kami pun perlahan memperlambat lajunya dan dengan susah payah mengantri untuk mendapat giliran parkir, karena hotel kami berada di dalam gang yang cukup sempit. Oia, belum lagi malam itu adalah malam Jumat, biasanya orang-orang di sekitar Makkah berbondong-bondong ke Masjidil Haram, jadi mobil-mobil sangat padat sekali saat itu. Alhamdulillah, sampailah kami di Hotel Dar El-Eiman di Ajyad, Makkah. Kami waktu itu diberi waktu sekitar 1 jam setengah untuk beristirahat sejenak. Pukul 10 malam, kita harus sudah berkumpul di lobby untuk melanjutkan ibadah umroh. Kembali, sampai sedekat ini pun saya masih belum bisa melihat Ka’bah, rindu ini semakin membuncah.Sampai di kamar, saya bersama Mba Didith, Mba Ririn dan Maya merebahkan diri di kasur untuk sekadar melepas lelah. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, dan waktu menunjukkan pukul 21.45. Segera kami bergegas ke lobby untuk berkumpul. Di lobby, teman-teman 1 rombongan sudah banyak yang berkumpul. Setelah semua tim lengkap, berangkatlah kami menuju Masjidil Haram.

Di sisi jalan sepanjang kami berjalan kaki, banyak ditemukan proyek-proyek pembangunan. Sempat agak mengeluh dalam hati, “Duh jadi penuh debu dan berisik deh, gak kaya di Madinah, adem, nyaman.” Tapi seketika itu saya beristighfar, nampaknya saya harus terus meluruskan niat, hadeh. Di sepanjang jalan juga saya temukan banyak sekali orang-orang dengan pakaian ihram berbodong-bodong menuju arah yang sama. Karena lokasi hotel kami yang lumayan jauh, membuat kami harus berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit untuk sampai tepat di depan Masjidil Haram. Pertama kali melihat Masjidil Haram, saya merinding. Dan (lagi-lagi) karena kenorakan saya, baru sampai di depan Masjidil Haram saja saya sudah berdecak kagum dan tak melepas pandangan ke seluruh arah, termasuk Menara jam besar yang fenomenal itu yang tepat berada di hadapan saya sekarang, Masya Allah! Di depan Masjidil Haram kami sempat berhenti, mendapat instruksi sebentar dari Muthawif bahwa kita tidak boleh berpencar. Dan masuklah kami ke dalam Masjidil Haram dengan tak lupa membaca doa.

Pertama Kali Melihat Ka’bah

Saya deg-degan bukan main kala memasuki Masjidil Haram. Kalimat talbiah tak hentinya selalu saya lantunkan dalam hati sepanjang langkah saya menuju Ka’bah berada.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ. رواه مسلم

Labbaik allahumma labbaik, Labbaikalaa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanyalah kepunyaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu

Dan saya pun tercengang saat melalui suatu belokan, dan saya akhirnya melihat Ka’bah itu besar sekali tepat di depan mata saya, Masya Allah! Tak hentinya mata saya memandangi Ka’bah yang indah itu, seraya didalam hati berdoa :

Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan

Sebelum memulai thawaf, rombongan kami merapikan barisan. Saling bergandeng tangan dengan erat agar tidak berpencar selama mengelilingi Ka’bah. Kami pun melangkahkan diri menuju arus manusia yang mengelilingi Ka’bah, menuju Hajar Aswad untuk memulai hitungan thawaf. Bibir saya bergetar hebat kala itu, dada berdegup dengan kencang, Maha Besar Allah yang sudah memberikan nikmat begitu besar kepadaku. Hajar Aswad pun terlihat, dan nampak sudah sejajar dengan kami.

Bismillahi Allahu Akbar!

Saya kecup telapak tangan saya, seraya melambaikannya ke arah Hajar Aswad. Kami pun berdoa dengan dipimpin oleh Muthawif di setiap putarannya. Satu putaran.. Dua.. Tiga.. Dan tak terasa sudah 7 putaran kami berthawaf. Segera kami mencari tempat untuk shalat sunnah thawaf. Aku dan Maya dengan sigap mencari tempat yang sejajar dengan Multazam, dan Alhamdulillah di tengah riuhnya orang saat itu, kami mendapatkan tempat yang sejajar dengan Multazam. Tangis haru pecah saat itu. Membayangkan betapa jauhnya langkahku saat ini, dan akhirnya bisa berada di depan Ka’bah seindah ini, Subhanallah! Buru-buru saya langsung menyeka wajah saya yang saat itu sudah sembap. Kami pun melanjutkan menuju tahapan Umroh selanjutnya, yaitu Sa’i. Area Shafa dan Marwah tidaklah jauh dari Ka’bah.Di sana Muthawif kami pun memimpin doa saat Sa’i sambil kami mengikuti. Alhamdulillah sudah 7 kali bolak-balik kami dari Shafa ke Marwah, setelah berdoa kami pun melanjutkannya dengan Tahalul. Dan Alhamdulillah rangkaian tahapan Umroh ini pun sudah selesai saya jalani. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, hari Jumat. Cukup melelahkan memang, jadi kami langsung bergegas kembali ke hotel untuk istirahat, karena pukul setengah 5 pagi nanti kami sudah harus kembali ke Masjidil Haram untuk shalat Tahajjud hingga Subuh.

Sempat pesimis kalau dengan tidur hanya 2 jam kami bisa fresh besok pagi, tapi Alhamdulillah karena doa yang kami panjatkan, kami bisa terjaga pukul 4 dengan fresh dan kembali ke Masjidil Haram untuk shalat. Masih agak mengantuk sih, tapi karena kami harus berjalan kaki, jadi perlahan rasa kantuk buyar tergantikan dengan rasa pegal, hehe 😀 Lagi-lagi, saya pun tidak menyiakan-nyiakan waktu saya saat itu, selama menunggu Shalat Subuh, saya habiskan waktu dengan membaca Al Quran. Ingat, apapun ibadah yang kita lakukan di Masjidil Haram, InShaa Allah 100.000x lipat pahalanya dibanding ditempat biasa, hehe Aamiin. Pertama kali mendengar adzan Subuh di Masjidil Haram, saya langsung teringat sama adzan yang ada di TV, spontan saya bilang dalam hati “Lho, ini adzannya kok sama kaya yang di RCTI?” Haha, dasar saya dodol nan norak waktu itu, pastilah adzan di TV itu mengambil rekaman adzan dari Masjidil Haram, bukan sebaliknya, hehe. Shalat subuh pun kami tunaikan, dan setelahnya langsung menuju hotel kembali untuk sarapan. Dengan mata yang berat karena ngantuk, kami pun mengambil sarapan, dan Alhamdulillah makanan kami selama di Madinah & Makkah enak-enak, makanan khas Indonesia pula, hehe. Setelah sarapan, saya dan teman-teman sekamar segera tidur untuk menambah stamina kami.

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, Alhamdulillah kami bisa tidur sekitar 3 jam pagi itu. Kami pun mandi dan bersiap-siap menuju Masjidil Haram untuk menunaikan Shalat Jumat.  Tak lupa, saya pun siapkan uang untuk sedekah kepada para pembersih Masjidil Haram yang ada disana. Suasana pagi itu segar sekali, banyak burung-burung beterbangan, dan kami pun berfoto-foto selama di jalan, hehe. Siangnya setelah Shalat Jumat kami kembali lagi ke hotel untuk sarapan dan beristirahat. Dan ditengah-tengah perjalanan, kami pun sempat jajan ice cream karena terlihat menggiurkan di panas terik gini, hehe. Dan lagi karena bolak-balik hotel ke Masjid cukup melelahkan, kami pun berencana nanti Ashar sampai Isya kami berada di Masjid saja.

100_4721

Pukul 3 sore kami sudah bersiap menuju Masjid lagi. Kali itu saya ingin sekali mengeksplore Masjidil Haram dari segala sudut. Salah satu target saya adalah ingin Shalat Magrib dan Isya di lantai paling atas, biar bisa shalat berhadapan Ka’bah di waktu senja, beratapkan langit tanpa penutup apapun, duh romantisnya. Jadilah saya dan Maya mencari-cari gimana caranya biar sampai ke lantai 3. Usai thawaf & Shalat Ashar, dengan berbekal petunjuk arah, akhirnya kami sampailah di lantai 3, yah susah-susah gampang juga nyarinya jalannya yah, hehe. Hal yang menarik yang saya rasakan selama disana ialah banyak sekali ibu-ibu yang mengajak anak-anak mereka shalat, dan anaknya itu lucuuuu banget, haduh gemesnya bukan main deh. Waktu pun berlalu, muadzin sudah bersiap mengumandangkan adzan Magrib. Langit perlahan berubah menjadi gradasi yang sangaatt indah, gak salah saya mengejar spot disini, hehe. Kami pun shalat Magrib, berhadapan dengan Ka’bah, beratapkan langit senja yang sangat indah, dan angin yang berhembus dengan sejuk, saya merasa ini lebih romantis daripada candle light dinner di rooftop gedung manapun lah pokonya! 😀 Tangis haru pecah lagi saat itu, dari lantai 3, saya bisa lihat dari atas bagaimana semua orang bersujud bersama-sama kepada Yang Satu, Allah SWT. Pengalaman indah itu tak akan mungkin saya lupakan. Selama Shalat, rupanya anak kecil di sebelah saya melihat saya sesegukan menangis waktu itu. Pas saja waktu salam berakhir, ia mendekati saya sambil tersenyum dan mengusap pipi saya, aahhh itu romantis banget! Sama Ibunya saya juga dikasih kue khas mereka, bentuknya seperti nastar tapi dalemnya isinya rempah-rempah gitu. To be honest, rasanya asing banget di lidah saya, dan ga terlalu suka juga, tapi demi menghormati sang pemberi, saya makan kuenya walaupun gak habis, aduh maap yaa ibu! 😦 Dan momen di lantai 3 itu pun gak saya sia-siakan, saya berfoto dengan background Ka’bah dari atas, Masya Allah cakepnya! 😀 Hari itu akhirnya kami tutup dengan kembali ke hotel dengan penuh rasa syukur atas segala yang kita alami hari ini, Alhamdulillah! 🙂

100_4733IMG_20141212_204455

Advertisements