Untitled

Tau panci? Pasti tau lah ya, apalagi lebaran-lebaran gini, sayur dan opor pasti ditempatin di panci, hehe 😀 Entah ada angin apa, tapi suatu hari (sudah agak lama), saya sempet kepikiran bahwa sebetulnya kita bisa belajar kesederhanaan dan kegigihan loh dari panci. PANCI? Iya Panci! Bukan Banci yaa.. 😛 Mau tau kok bisa-bisa nya kita belajar dari panci, padahal kan panci biasanya cuma buat masak. Makanya, cekidot!

  1. Pada Hakikatnya Panci Tak Memiliki Isi, Ia Hanya Dititipkan Isi yang Bisa Saja di Ambil Kapanpun oleh Pemiliknya

Bukankah hakikat panci itu sama dengan manusia? Setiap manusia dilahirkan dengan tak memiliki apapun, lalu kemudian ia dititipkan rezeki berupa materi, harta, ilmu pengetahuan, anak, keluarga dari Sang Pencipta. Ingat, hanya dititipkan yah, tidak dimiliki seutuhnya. Jadi untuk apa berbangga-bangga terhadap hal duniawi yang dititipkan Allah kepada kita, karena bisa saja Allah ambil ambil kapan pun dari kita. Panci saja tidak bangga terhadap opor seenak apapun yang ada didalamnya, ya kan?

  1. Panci Perlu Ditempa, Dipanaskan Agar Ia Dapat Memberikan Value pada Isinya

Coba bayangkan jika panci tidak mampu tahan panas. Setiap diisi air dan dipanaskan oleh api dia meleleh, misalkan panci yang terbuat dari plastik gitu. Menyebalkan bukan? Pasti deh dibuang. Tapi bukankah tidak pernah kita temukan panci yang terbuat dari plastik? Lantas kenapa panci terbuat dari besi, ataupun alumunium jika diciptakan tidak untuk menambahkan value pada isinya?

Begitulah, pada hakikatnya panci diciptakan dari besi ataupun alumunium yang punya titik didih yang tinggi agar ia dapat dapat tahan saat dipanaskan. Yang dengan tempaan panas itu, ia dapat berfungsi lebih terhadap sekitarnya, yakni menambahkan value pada isinya, membuat air ataupun masakan menjadi panas dan matang.

Maka jika panci saja harus tahan tempaan untuk bisa menambahkan value pada isinya, bagaimana dengan manusia? Manusia yang dibekali dengan akal dan logika yang tidak dimiliki makhluk lain, harus mampu menggunakannya dengan baik agar memberikan maslahat bagi orang banyak. Memang, belajar itu tak mudah, tapi bukankah itu salah satu tempaan pada diri agar menjadi lebih bermanfaat bagi sekitar kita?

  1. Isi Panci Perlu Dibagi

Atas segala perlakuan, tempaan yang dirasakan oleh si panci, lantas apakah si panci sombong hingga tak membagi isinya kepada yang lain? Tidak, tidak pernah! Panci dengan begitu ikhlas dan indahnya membagi isinya kepada siapapun yang membutuhkan. Apakah dia kekurangan? Bukankah dengan mengurangi isi untuk dibagi akan memberikan ruang baru bagi ia untuk mendapat tambahan isi? Jadi siapa yang lebih kaya, yang suka membagi, atau yang hanya disimpan untuk diri sendiri?

Jika panci saja memiliki filosofi indah seperti itu, lantas bagaimana dengan kita, manusia? Masih bangga dan sombong kah kita dengan apa yang dititipi oleh Tuhan kepada kita? Mampukah kita untuk mendapat tempaan agar bisa memberikan value lebih kepada sekitar kita? Dan relakah kita untuk membaginya kepada orang-orang lain sekitar kita? Tulisan ini saya dedikasikan kepada diri saya sendiri, sebagai pengingat di kala lupa dan khilaf. Terimakasih, semoga bermanfaat.

download

Advertisements