Bima Arya, dalam satu episode Mata Najwa bertema “Darah Muda” menjabarkan, bahwa baginya anak muda terbagi menjadi 3, yaitu :

– Anak muda yang masih bingung dengan dirinya

– Anak muda yang asik dengan dirinya

– Anak muda yang sudah selesai dengan dirinya

Entahlah, saya merasa klasifikasi ini tepat sekali menjabarkan  kondisi saya dan anak muda lainnya saat ini. Ketertarikan akan statement ini, mendorong saya untuk membahasnya dalam tulisan saya kali ini, mari disimak yah.

 

Anak Muda yang Masih Bingung dengan Dirinya

Model anak muda yang satu ini, mungkin jumlahnya paling banyak yah diantara 2 tipe yang lain (berdasarkan observasi ajah, hehe). Masih galau mau melanjutkan ke sekolah atau program studi apa nanti saat kuliah. Masih galau mau kerja praktek dimana. Masih galau mau bikin skripsi apa. Masih galau mau ngapain nanti setelah selesai kuliah. Dan galau-galau lainnya. (tapi ini gak berarti 2 tipe lain gak galau yah, hehe). Tipe anak muda yang satu ini butuh sekali nasehat, insight, masukan dari lingkungan terdekatnya. Bagai pisau bermata dua, jika lingkungan mereka adalah lingkungan yang positif, maka beruntunglah mereka dapat menyerap hal-hal yang positif sebagai bekal untuk masa depannya. Lain halnya jika lingkungannya cenderung negatif, maka tak mungkin anak-anak muda yang bingung nan galau ini terjerumus pada hal yang negatif juga. Jadi marilah kita lihat sekitar dan peduli terhadap teman ataupun kerabat kita yang masih berada pada tahap ini. Lingkungan dan nasehat yang positif sangat membantunya dalam merangkai rencana untuk masa depan yang lebih baik.

Anak Muda yang Asik dengan Dirinya

Model anak muda yang satu ini masih berorientasi pada diri sendiri. Untuk apa punya pekerjaan dan penghasilan yang baik? Pastinya untuk membuat hidupnya bahagia, seperti membeli baju, sepatu, tas, hangout bersama teman, nonton, eksis, dan hal-hal lain bisa membuat bahagia dan menunjukkan eksistensi diri. Di masa-masa ini, anak-anak muda cenderung boros, sehingga sangat butuh bantuan dari sekelilingnya untuk “mengerem” gaya hidupnya ini. Jangan lupakan sebanyak apapun penghasilan yang kita dapatkan, sangat penting untuk dialokasikan untuk jangka panjang, seperti investasi, tabungan, dan hal-hal lain yang bersifat long term. Tapi ada juga, anak muda yang sudah well managed terhadap gaya hidupnya, namun masih dikategorikan masih asik dengan dirinya. Ialah anak-anak muda yang dalam kesehariannya masih berorientasi terhadap dirinya, seperti berinvestasi atau menabung untuk dapat meningkatkan kekayaannya dengan membeli mobil, rumah, apartment, perhiasan, dan yang lainnya. Tahapan ini biasanya adalah masa yang paling panjang diantara tahap-tahap yang lain. Bahkan tak jarang, sampai tua pun masih ada yang berada di tahap ini, masih asik dengan dirinya.

Anak Muda yang Sudah Selesai dengan Dirinya

Tahap ini adalah tahapan yang tersulit bagi setiap anak muda. Untuk mencapai tahapan ini pastilah semua anak muda melalui 2 tahapan yang sebelumnya. Tahapan ini dapat dikatakan suatu titik balik, bahwasanya merekapun tersadar bahwa apa yang dilakukannya untuk diri sendiri hanya memberikan kebahagiaan yang sementara. Karena pasti ada hal-hal lain yang akan diingini nantinya, adalah hal yang manusiawi jika setiap manusia tidak akan pernah puas dengan dirinya. Titik balik ini membawa dirinya berfikir bahwa kebahagiaan yang sejati ialah dengan menjadi manusia yang bermanfaat. Dimasa ini mereka akan mulai mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat, seperti hang out dengan teman sampai larut malam, menghamburkan uang terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat, dan lain sebagainya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu untuk berfikir dan bertindak bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk orang lain. Mungumpulkan kekayaan tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk berbagi dengan orang lain. Mungumpulkan ilmu tidak lagi hanya untuk dirinya, tapi juga untuk berbagi dengan orang lain. Berbagi, menjadi sebuah kebutuhan baginya.

Jadi tipe manakah kamu?

Kalau saya, saya merasa masih berada di masa transisi 2 tahap, yakni masih asik dengan diri sendiri tapi di lain sisi juga merasa sudah selesai dengan diri saya sendiri. Saya merasa masih asik dengan diri sendiri dalam urusan jalan-jalan. Satu-satunya hal yang masih saya inginkan untuk diri saya sendiri adalah menjelajah lebih  banyak lagi tempat di bumi. Ada hal yang tidak bisa digantikan dalam merasakan pengalaman menjelajah tempat-tempat baru. Ya, sepertinya itu saja, lainnya saya sudah merasa selesai. Fokus saya sudah bukan untuk saya. Tapi untuk orang tua, adik, orang-orang yang berada di masa depan dan orang-orang lain yang membutuhkan. Kekurangannya adalah saya menjadi pemilih. Saya tidak suka saat diajak teman untuk pergi menghedon, dan lebih cenderung gak terlalu gaul bagi komunitas teman-teman yang suka ngumpul bareng. Saya menjadi orang yang masa bodo dengan omongan orang, karena mungkin mereka belum paham bahwa inilah jalan yang saya pilih. Kecuali jika mereka mengajak kepada hal-hal yang lebih manfaat, saya pasti join. Saya pun lebih memilih pulang bertemu orang tua atau pergi dengan teman-teman terdekat, yang lebih bisa memberikan sharing dan masukan positif daripada ngumpul-ngumpul trus ngomongin orang.

Kekurangan lain saya adalah saya jadi cuek dengan diri sendiri. Saya terlalu fokus mengupgrade diri demi orang lain, hingga saya kadang lalai berfikir untuk diri sendiri. Jadi ya gini deh, saya masih gendut-gendut ajah, hehe. Pakaian, tas, sepatu yang saya punya juga biasa-biasa ajah, ga yang WOW seperti teman-teman yang lain. Asal pas, pantes dan sesuai occasion, hehe. Tapi perlahan saya coba memperbaiki kekurangan-kekurangan ini, Bismillah semoga berhasil! Aamiin 😀

Advertisements